WELCOME

SELAMAT DATANG DI SITUSNYA PDT.KIKI PALOHON S.TH, M.PD.K. SELAMAT MEMBACA. GBU ALL

Selasa, 16 April 2013

TEOLOGI KONTEMPORER SEBAGAI JAWABAN AKHIR ZAMAN

TEOLOGI KONTEMPORER OLEH PDT. KIKI PALOHON STH (CONTENPORARY THEOLOGY) 1) PENDAHULUAN. Pengaruh teologi kontemporer sangat terasa di Indonesia. Sebagai contoh sekitar tahun 1980-an sebuah jemaat di kabupaten Malang mengembalikan gembala sidangnya kepada sinode, karena mengajarkan bahwa kitab Ayub bukanlah Firman Allah. Kemudian sekitar tahun 1997, Pdt. Yohanes Rakhmat, M.Th memberi ceramah di Bandung dengan tema: Yesus Historis dan Yesus Kepercayaan. Ia mengatakan antara lain bahwa Yesus yang historis (orang Nazaret) tidak ada dalam kitab-kitab Injil. Yesus yang dicatat dalam kitab-kitab Injil adalah Yesus kepercayaan, yaitu menurut konsep jemaat Kristen mula-mula. Sesungguhnya, teologi kontemporer sudah ratusan tahun merusak iman Kristen yang benar, termasuk para intelektual Kristen. Itulah sebabnya, sebagai umat yang mengakui Alkitab sebagai Firman Allah (evangelical), sangat penting mendalami latar belakang sejarah teologi kontemporer, dasar dan ciri khas pemikirannya, aliran dan garis besar pemikiran teologi kontemporer. Dengan memahami pokok-pokok ini, kita memperoleh masukan untuk merumuskan tanggapan yang alkitabiah sekaligus sebagai usaha membentengi warga jemaat dan ajaran yang alkitabiah. 2) PENGERTIAN. Teologi konteporer atau yang disebut juga dengan Teologi Modern adalah teologi Historis-Kritis, yaitu teologi yang di dasarkan pada keraguan/kecurigaan terhadap Alkitab. Alkitab tidak lagi diterima sebagai wahyu Allah/kebenaran yang diilhamkan, tetapi sebagaimana layaknya buku kuno yang harus dibuktikan kebenarannya, baik dari sisi sejarahnya maupun berita yang disampaikan di dalamnya. Dengan demikian Alkitab tidak diterima lagi sebagai satu-satunya sumber teologi dan menjadikan Filsafat sebagai sumber kedua yang pada akhirnya menggeser secara penuh kedudukan Alkitab. Karena Teologi ini tidak berdasar pada Allah dan Firman-Nya, maka melahirkan pemahaman teologi yang berbeda-beda antara satu teolog dengan teolog lainnya. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa teologi kontemporer adalah: a) Bukan teologi Kristen karena telah menyimpang dari azas-azas teologi Kristen. Teologi Kristen adalah teologi yang azas utamanya ialah Allah dan Firman-Nya (Alkitab). Sementara itu lecture teologi kontemporer telah berpindah azas kepada manusia (humanisme) dan Filsafat masa pencerahan atau juga ilmu pengetahuan sosial. Jelas bahwa teologi Kontemporer bukanlah teologi Kristen bahkan pantas juga jika kitasebut “Bukan Teologi”. b) Bidat Kristen/antikristus. Saya sependapat dengan Eta Linneman bahwa teologi Kontemporer adalah bidat Kristen, sebab memang memenuhi syarat untuk disebut sebagai bidat, diantaranya adalah: i) Memberitakan kebenaran baru yang selalu bertentangan dengan doktrin Alkitabiah. ii) Mendasarkan ajarannya di atas dasar selain Alkitab yang adalah Firman Allah. Mereka memakai buku-buku yang dikarang oleh pendiri aliran mereka. iii) Memberitakan Yesus yang lain dengan yang Injil beritakan. iv) Memberitakan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan ajaran yang Alkitabiah. 3) LATAR BELAKANG – LAHIRNYA. Teologi kontemporer lahir di Swiss pada tahun 1919 yang dipelopori oleh Karl Barth (1886-1968) seorang teolog muda yang juga pendeta (25 tahun) (Conn, Teologi Kontemporer, 1991:14). Eta Linnemann menyebut teologi Karl Barth ini dengan sebutan “teologi modern” atau teologi historis kritis” (1991:11). Ciri khas dari teologia ini adalah penempatan rasio/akal sebagai pusat/titik sentral(kaidah/ukuran) kebenaran. Lahirnya teologi kontemporer dilatar belakangi oleh gerakan Renaissance yang berarti “kelahiran kembali”, yaitu kelahiran kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi, suatu masa perubahan kebudayaan dan pandangan hidup dari Abad Pertengahan ke Abad Modern. Renaissance ini muncul di Italia pada abad XIV. Sambil melayangkan pikiran ke masa lampau, sarja dan seniman Renaissance sebenarnya memandang ke masa depan. Penyelidikan ilmiah dibangkitkan kembali secara bebas, kesenian dan filsafat diberi corak baru: MANUSIALAH YANG DITEMPATKAN DI PUSAT DUNIA. Lambat laun, humanisme dari renaissance memusatkan perhatiannya kepada manusia. Humanisme yang pada awalnya berhubungan dengan agama akhirnya memisahkan diri karena sangat yakin akan kesanggupan manusia dan keunggulan rasio manusia. Gerakan renaissance ini terjadi pada abad XIV-XVII, dimana 200 tahun sebelumnya filsuf renaissance asal Jerman bernama Immanuel Kant (1724-1804) telah mendengungkan kedaulatan rasio manusia. Manusia dengan rasionya dijadikan kaidah bagi segala yang ada (diillahikan). Fanatisme terhadap kedaulatan akal (rasio) makin memukau perhatian para cendikiawan pada abad XVII-XVIII yang dikenal denganh nama ENLIGHTENMENT (Pencerahan)/post reformasi. Masa pencerahan yang dimulai pada tahun 1687 ditandai dengan terbitnya karya tulis Isack Newton berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (Azas-azas Matematika Filsafat Alam) yang ditegaskan dengan pernyataan Kant bahwa “pencerahan adalah kebangkitan manusia dari masa kanak-kanaknya”, yaitu karena manusia tidak berani menggunakan rasio secara mandiri atau lepas dari kungkungan politik dan agama. Peter Gay dalam bukunya Abad Pencerahan: Abad Besar Manusia menyebut abad pencerahan sebagai abad “Revolusi Industri atau revolusi demokrasi, revolusi ilmu, revolusi intelektual, modernisasi atau revolusi harapan yang meluap-luap” (h.12). Berikut ini dipaparkan secara ringkas filsafat-filsafat abad pencerahan yang melatar belakangi lahirnya teologi kontemporer. a) RASIONALISME. Aliran filsafat ini dipelopori oleh Descartes. Disebut rasionalisme karena aliran ini sangat mementingkan rasio/akal bahkan mendewakan rasio, suatu kepercayaan akan rasio untuk mendapatkan kebenaran. Dalam rasio diyakini terdapat ide-ide dan melaluinya manusia dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas di luar rasio. Selanjutnya, para filosof rasionalisme menyatakan bahwa kekuatan akal pada diri manusia (sebagai kekuatan instinktif), adalah sumber dari semua ilmu/kebenaran yang hakiki. Lebih jauh lagi mereka mengatakan bahwa rasio sebagai asal-usul dari segala keberadaan. b) EMPIRISME. Istilah ini bersal dari kata Yunani “empeiria” yang berarti “pengalaman inderawi”. Empirisme menjadikan pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja. Filsafat aliran ini berpegang pada pendapat bahwa setiap yang disebut kebenaran harus dapat dibuktikan secara empiris. Filsafat inilah yang melahirkan berbagai macam ilmu empiris yang didominasi dengan pemikiran Yunani yang menekankan matematika, logoika, dan metode observasi. Dengan demikian, empirisme sangat bertentangan dengan rasionalisme. Mereka menolak ide-ide natural yang dikemukakan oleh filsafat aliran rasionalisme dan mengembalikan semua pengetahuan dengan semua bentuknya kepada pengalaman inderawi. Orientasi ini mendorong mereka untuk secara serius lebih memperhatikan peristiwa-peristiwa nyata. c) MATERIALISME. Filsafat ini menganggap seluruh alam semesta adalah materi/keendaan. Semua yang bukan materi sebenarnya tidak ada. Semua hanyalah materi, baik manusia maupun alam semesta, yaitu mempunyai panjang, lebar dan tinggi. Alam semesta dipandang sebagai kesatuan material yang tak terbatas; alam, termasuk di dalamnya segala materi dan energi (gerak atau tenaga) selalu ada dan akan tetap ada, dan bahwa alam (world) adalah realitas yang keras, dapat disentuh, material, obyektif yang dapat diketahui oleh manusia. Menurut aliran ini, materi ada sebelum jiwa (self), dan dunia materi adalah yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia ini adalah nomor dua. d) IDEALISME. Aliran ini mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme menekankan “mind” sebagai hal yang lebih dahulu (primer) dari pada materi. Sebab itulah aliran ini sangat bertentangan dengan materialisme. Bagi idealisme, akal itulah yang riil dan materi hanya merupakan produk sampingan. e) EKSISTENSIALISME. Aliran ini berkisar pada wujud eksistensi manusia, yang dipelopori oleh Kierkegaard, yang tertarik pada keberadaan manusia. Wujud manusia yang dipelajari oleh filsafat eksistensialisme bukanlah esensi yang kita rasionalkan, namun eksistensinya. Menurut Kierkegaard, eksistensi manusia bukan mengenai apakah ia tetapi apa yang ia buat untuk dirinya. Jadi eksistensi manusia adalah kesatuan dari segala keputusan dan pemilihannya. 4) CIRI-CIRI TEOLOGI KONTEMPORER. Aliran teologi ini mempunyai ciri-ciri yang menonjol dalam berteologi, yaitu: a) Mendewakan rasio. Secara umum, memandang rasio sebagai satu-satunya kaidah kebenaran mengakibatkan: i) Tergesernya Alkitab sebagai Firman Allah yang berotoritas. ii) Penolakan terhadap otoritas Alkitab yang adalah Firman Allah. iii) Rongrongan terhadap kedaulatan Allah (teologi). iv) Agama tidak bisa melawan gerakan ini dan tertelan ke dalamnya. v) Para teolog terbawa arus pandangan dunia baru. vi) Manusia dengan rasionya yang terbatas dan cacat karena dosa “diillahikan” dan sebaliknya Allah yang illahi direndahkan. Manusia menyangkali berita Alkitab (Maz. 8:6) dan memandang diri lebih tinggi posisinya daripada Allah. Sikap “mengillahikan” rasio manusia dipandang Francis Schaeffer sebagai pemisahan alam dari Allah. “Bilamana alam diberi kedaulatan, ia mulai menelan anugerah. Pada puncak Renaissance, alam telah menelan habis anugerah yang berbuahkan kebinasaan (Schaeffer, Escape from Reason, tt:6). vii) Kaum intelektual semakin memperlihatkan sikap deis dan atheis. Contoh. Isaac Newton (1642-1727) seorang ahli matematika asal Inggris yang lahir di hari natal, dalam penelitiannya terhadap planet-planet ruang angkasa menyimpulkan: “Allah disamakan dengan ruang angkasa raya. Maka lahirlah buah pikiran mengenai Allah yang mengisi lubang-lubang (yaitu hal-hal yang belum diketahui). Searah dengan Newton, G. W. Leibniz (1646-1716) seorang sarjana asal Jerman yang ahli di bidang sejarah, hukum, bahasa, matematika, teologi dan filsafat, mengemukakan bahwa: “Allah yang mahasempurna, pasti tidak menciptakan suatu dunia yang tak sempurna dan selalu perlu diperbaiki”. Dalam pemikiran Newton dan Leibniz terdapat unsur pemikiran yang kuat bahwa Allah sebagai tukan arloji illahi, artinya Allah menciptakan dan menyetel alam semesta, kemudian ia mengundurkan diri untuk memandang hasil karyanya dari jauh (tidak ikut campur tangan dengan segala kejadian di dunia). John Locke (1632-1704), filsuf asal Inggris mengatakan bahwa: “kita memiliki pengetahuan akan adanya diri kita dari intuisi kita; akan adanya Allah dari pembuktian dan akan hal-hal yang lain dari pengalaman panca indera (Heuken, Agama dan Ilmu-ilmu Pengetahuan, tt : 48, 50). Contoh ketiga pandangan tersebut memperlihatkan pemahaman deis dan atheis, yang menjadi fondasi dan cirri khas yang dasar dan alam pemikiran teologi kontemporer dalam perjalanan hidupnya. viii) Lahirnya berbagai “isme” yang berpengaruh sangat kuat dalam perkembangan teologi kontemporer. (1) Historisme, menekankan bahwa tolok ukur histories yang selama ini dipandang akurat dan obyektif harus diuji ulang sejak hadirnya pencerahan. Akhirnya, antara yang historis dan yang diimani dalam Alkitab harus dipersoalkan ulang. (2) Saintisisme, sejak Galileo, para ilmuwan berhasil mempromosikan kehebatan ilmu pengetahuan sebagai jawaban yang paling solid terhadap semua misteri kosmos makro-mikro kosmos, maka kisah penciptaan (Kej. 1, 2) ditolak. (3) Kritisisme, studi tentang naskah-naskah dari abad pertengahan yang diakui asli, ternyata tidak benar oleh pemikiran modern. Karena itu para ahli berusaha mencari naskah asli berdasarkan metode ilmiah (histories kritis), termasuk semua dukumen masa lampau harus diperiksa dengan teliti (keasliannya, keakuratannya, faktualitasnya). Dalam hal ini PL dan PB harus dikritik dengan metode kritik tinggi. (4) Rasionalisme, deisme yang berakar pada filsafat kafir merupakan pelopor teologi yang mendaulatkan rasio sebagai kaidah kebenaran termasuk kebenaran agamawi. Walaupun para pemikir (teolog) percaya pada Allah, rasio tetap sebagai primadona ilmu pengetahuan, etika, estetika, kecantikan, agama. Semua unsure yang tidak rasional harus dibuang dari arena kepercayaan. (5) Toleranisme. Menyusul penemuan Columbus (benua Amerika), para ahli dibarat menyatakan bahwa dunia ini kaya dengan “kebudayaan dan agama”. Contoh: Gotthold Lessing dengan dramanya “Nathan the wise” (1977) memproklamirkan bahwa “tidak ada satu agamapun yang memiliki kebenaran mutlak termasuk agama Kristen”. (6) Optimisme. Pencerahan tidak mengakui dosa asal. Dosa dianggap sebagai suatu peristiwa psikologis dan khayalan belaka. Agama merupakan neurosis umum yang selalu mengganggu pikiran manusia (baca pandangan Freud dalam buku Heuken, Agama dan Ilmu-ilmu Pengetahuan, tt : 127-129). Ajaran yang menekankan penderitaan salib harus diganti dengan pemikiran dan ajaran yang positif, optimis. (7) Kantianisme. Immanuel Kant (1724-1804) boleh disebut sebagai “bapak teologi liberal” karena pemikirannya selalu menjadi acuan para teolog liberal. Ia katakan antara lain: ilmu pengetahuan telah melawan dan membisukan agama. b) Semua aliran teologi yang disebut teologi kontemporer adalah teologi histories Kritis, yang mendasarkan pemikiran teologianya pada keputusan bahwa Alkitab adalah sebuah dokumen sejarah agama kuno (ditulis pada zaman pra-ilmiah). Karena itu perlu dinilai dan dikritik oleh manusia modern. Para teolog kontemporer tahu bahwa Alkitab sangat berarti bagi gereja, namun mereka tidak rela menghargai Alkitab sebagai Firman Allah yang diilhamkan oleh Roh Kudus, inneren, dan berotoritas mutlak (baca: James Barr, Alkitab di Dunia Modern, Jakarta:BPK). 5) PENTINNYA MEMPELAJARI TEOLOGI KONTEMPORER. Apakah kepentingan mempelajari teologi kontemporer yang antikristus? a) Untuk memahami dasar pemikiran teologi kontemporer sebagai dasar pelengkapan dalam menghadapi wacana teologi yang beredar dalam kehidupan gereja. b) Untuk memahami garis besar pemikiran teologi kontemporer sebagai dasar bagi upaya menolong mereka yang terjebak dalam pemikiran teologi kontemporer. c) Untuk dapat memberikan penilaian kritis Alkitabiah tulisan-tulisan yang bernafaskan teologi kontemporer yang banyak meracuni kehidupan gereja Tuhan. 6) KERUMITAN TEOLOGI KONTEMPORER. Sebagian pelajar teologi kontemporer mengalami kesulitan atau kebingungan dalam mempelajari teologi kontemporer. Hal ini disebabkan karena: a) Kerumitan berpikir dan munculnya anaka ragam aliran teologi. Misalnya teologi Neo-Ortodoks Karl Barth, Teologi Proses, Teologi Allah Sudah Mati, Teologi Kerbau, dll. b) Dasar teologi kontemporer adalah Filsafat bukan Alkitab. Setelah berakhirnya seorang teolog pada kurun waktu tertentu, muncul teolog lain dan mengembangkan dasar pemikiran teologis yang berbeda. c) Tiap teolog/aliran teologi kontemporer memiliki istilah tertentu dalam konotasi tertentu pula. Contoh, dalam pemikiran-pemikiran teologi Karl Barth, ia memakai ungkapan (statement) yang persis sama 100% sama dengan istilah yang dipakai kaum Injili, tetapi dengan pengertian yang sangat berbeda. Dalam ceramahnya di Amerika (Princeton Theological Seminary Univercity of Chicago), ia menyebutkan bahwa teologi baginya adalah “an Evangelical Theology” (ia tidak menyukai istilah Neo-Ortodoks) (Susabda, Teologi Modern I, 1989 : 87-88). d) Karena dasar pemikiran teologi kontemporer adalah filsafat, maka dengan sendirinya banyak pra-anggapan dan doktrin yang menyeleweng dari ajaran Alkitab. 7) DASAR TEOLOGI KONTEMPORER. Teologi kontemporer dibangun diatas dasar Filsafat, bukan atas dasar Firman Allah (Alkitab). Filsafat yang mempengaruhi gereja dan teologianya sejak abad pertengahan (neo-platonisme) dan pada abad skolastik filsafat Aristoteles. Pada masa Renaissance, Filsafat berpadu dengan paham humanisme, dan para teolog kontemporer berusaha mengintegrasikan antara filsafat dengan Alkitab yang mengakibatkan: a) Tergesernya otoritas Alkitab dalam kehidupan orang percaya. b) Alkitab bukan satu-satunya sumber bagi teologi Kristen. Para teolog tidak lagi merasa cukup dengan Alkitab sehingga memakai filsafat kafir sebagai sumber teologi mereka. c) Penempatan Filsafat Aristoteles sejajar dengan Alkitab dan pemikiran berbagai aliran Filsafat sebagai sumber teologi menyebabkan kematian rohani. Berikut ini Filsafat-filsafat yang dipakai sebagai dasar teologi kontemporer yang menimbulkan kematian rohani: i) Giovani Pico Della Mirandola (1463-1494) berkata: “Manusia diciptakan tidak bersifat duniawi dan juga tidak bersifat surgawi (rohani). Manusia bisa merosot nilainya sehingga seperti binatang, tetapi ia juga dapat naik ke surga. Semuanya terletak pada kehendak manusia sendiri è manusia diberi wewenang untuk memiliki apa yang ia mau dan untuk menjadi seperti apa yang dikendakinya”. Apa kata Alkitab tentang manusia? (diskusikan). ii) Francis Bacon (1561-1624), seorang filsuf empiris, melalui bukunya NOVUM ORGANUM (1620) ia berhasil membangun dasar kritik modern terhadap Alkitab. Menurutnya, segala kebenaran hanya dapat diperoleh secara induktif (melalui pengalaman dan pikiran yang didasarkan atas impiris dan kesimpulan melalui hal yang khusus kepada hal yang umum. Baginya cara induktif cocok untuk semua idang ilmu. Untuk Alkitab Bacon mengatakan : (a) Alkitab tidak memberi fakta apapun mengenai dunia fisika. (b) Alkitab adalah buku yang hanya berguna bagi kesalehan, yang memimpin kepada sikap menghormati dan mentaati Allah, tetapi tidak berarti mengenal Allah secara obyektif dan benar. iii) Thomas Hobbes (1588-1679) seorang filsuf Materialisme (a) Semua/pikiran adalah kesan panca indra.Tidak ada satu konseppun yang tidak dimulai oleh kesan panca indra. Seluruh alam semesta adalah kebendaan dan apa yang bukan kebendaan sesungguhnya tidak ada. Yang infinite (tak terhingga)tidak mungkin ada. (b) Kepercayaan tentang hal yang ajaib, dunia yang tak terhindari hanya didasarkan oleh mujizat. Konsekuensinya kalau mujizat tidak tahan uji, maka kepercayaan akan runtuh. Jadi kepercayaan yang dibangun atas dasar mujizat seseungguhnya tidak kuat. Mengapa demikian, karena menurut Hobbes, mujizat perlu ditafsirkan dan dimengerti seperti perumpamaan (hanya secara rohani dan bukan sebagai sebagai suatu peristiwa). (c) Alkitab tidak dapat memberitahukan wahyu apapun, sebab dalam Alkitab yang tidak masuk akal (absurd), mustahil. Misalnya, Keilahian Yesus Kristus, Allah Tritunggal. Percaya kepada hal-hal yang absurd merupakan kepercayaan yang buta. (d) Hobbes yakin bahwa akal manusia (rasio) adalah firman Allah yang tidak dapat ditentang. Akal manusia diberi monopoli mencapai pengetahuan seluruhnya, sedangkan Alkitab hanya berguna untuk menjadikan manusia taat. Bagaimana pendapat/tanggapan terhadap pendapat Bacon dan Hobbes? DISKUSIKAN ! (d.1) Jalan pikiran keduanya berlawanan dengan Alkitab/penolakan terhadap wahyu (d.2) Tidak mempedulikan dan tidak memuliakan sekalipun mereka mengaku percaya Allah yang hidup (Roma 1:21-23) (d.3) Rasio manusia dan ilmu pengetahuan modern dalam arti yang sesungguhnya diper-illah ganti Allah yang hidup. iv) Rene Descartes (1596-1650), seorang filsuf Rasionalis Descartes (baca:Dekart) adalah ahli ilmu pasti kelahiran Tours (Prancis) teman sejaman dengan Galileo Galilei (1564-1642) asal pisa yang menolak jadi biarawan. Ia dididik an dibesarkan oleh imam-imam dari golongan Jesuit. (Heuken, Agama dan Ilmu-ilmu Pengetahuan, 42-46) Pemikiran Descartes berseberangan dengan pemikiran filsafat Empirisme. Ia meragukan pengetahuan melalui panca indra. Ia sangat dikenal dengan dasar pemahamannya: “Cogito ergo sum” (kalau saya ragu-ragu, saya berpikir dan kalau saya berpikir, pasti saya ada.” Apa yang terkandung dalam prinsip dasar Rene Descartes ini? DISKUSI! Pendapat Descartes menunjukkan bahwa : (a) Keragu-raguan menjadi prinsip dasar keyakinan bagi manusia modern, Akibat dari prinsip pemikiran Descartes ini, maka dalam tiap bidang ilmu muncul praduga awal yang kemudian ada usaha untuk membuktikan kebenaran praduga itu. Dengan kata lain, keragu-raguan (praduga) diakui sebagai jalan untuk mencapai pengetahuan/pengertian yang benar. (b) Manusia berusaha untuk mendasarkan keberadaannya atas pikirannya v) Baruch De Spinoza (1632-1677) ahli filsafat rasionalis Spinoza (asal Yahudi) kelahiran Belanda sangat mengecam dan menentang Alkitab. Pemikiran-permikiran Spinoza adalah sbb: (a) Semua kebenaran dapat diketahui secara matematis, termasuk kebenaran agama yang benar. Semua hal dalam agama yang tidak dapat diketahui harus ditolak tegas. (b) Alkitab bukan Firman Allah, tetapi di dalam Alkitab terdapat Firman Allah. Serpihan dari pikiran ini terwarisi hingga kini (Wismoady Wahono, Di sini Ketemukan, 17-280, 349-412), James Barr, Alkitab di dunia Modern (75-99). Artinya Alkitab tidak seluruhnya adalah Firman Allah, melainkan hanya bagian tertentu. Akibat pendapat ini (b.1) Sebagian Pl tidak diterima sebagai Firman Allah, melainkan hanya diakui sebagai bagiaan yang berkenaan dengan sejarah umat Israel (temporer). (b.2) Inilah yang dipakai Karl Barth, Rudolf Bultman sebagai latar belakang pemahaman mereka (demitologisasi Bultmann. (c) Alkitab tidak diakau sebagai penyataan Allah. Memegang Alkitab sebagai Firman Allah = mengubah kepercayaan menjadi tahyul, menyembah kertas dan tinta sebagai Allah. Pemikiran ini kemudian diwarisi oleh Barth dalam pemikiran theologisnya. (d) Spinoza menolak adanya mujizat. Kalau sutu peristiwa dimengerti sebagai mujizat, itu merupakan akibat dari keterbelakangan.Kalau keterbelakangan dihilangkan, maka mujizat akan hilang juga.Tiap peristiwa yang disajikan Alkitab harus sesuai dengan hukum-hukum alam.Bahkan menurut David Hume, “mujizat adalah pemerkosaan terhadap hukum alam (Peter Gay, Abad Pencerahan). Pendapat dari Hume ini merupakan buah dari Deisme yang menyebut Tuhan sebagai “ahli matematika agung” atau “tukang jam ilahi.” Mengakui adanya mujizat berarti menganggap adanya ralat pada Tuhan, sebab Tuhan tidak bekerja secara tambal sulam dalam menciptakan alam semesta dan tidak perlu mengadakan intervensi untuk memperbaiki kekeliruan di sana sini. (e) Spinozalah yang pertama-tama mengatkan bahwa nabi Daniel hanya menulis kitab Daniel pasal 8-12. Sejak itulah maka kitab Daniel diragukan oleh para theolog kontemporer. Mereka katakana bahwa kitab Daniel tidak ditulis sebelum abad II BC. Demikian juga Musa sebagai penulis kitab-kitab Taurat di tolak Spinoza. Juga Spinoza yang menaburkan benih keraguan terhadap kitab-kitab Injil. Ia mengatakan bahwa tidak pantas dipercaya bahwa Allah menghendaki hidup Kristus diceritakan empat penulis. (f) Spinoza juga menyangkal kebangkitan Tuhan Yesus sebagai peristiwa dan kenyataan. Ia hanya akui penyaliban sebagi peristiwa histories, sedangkan kebangkitan Tuhan Yesus adalah berita buatan para rasul. Jadi apa yang dirumuskan Bultmann bahwa “kebangkitan Yesus bukan peristiiwa histories” telah dirumuskan oleh Spinoza 200 tahun sebelumnya. è Bagaimana tanggapan anda terhadap tanggapan Spinoza? DISKUSIKAN vi) David Hume (1711-1776), filsuf Empirisme Skeptik. Hume berpendapat sama dengan Hobbes yang sangat menekankan pada pengalaman inderawi manusia. Juga sama dengan, ia menentang mujizat namun sedikit berbeda. Hume tidak meragukan kemungkinan terjadinya mujizat (the possibility of miracles), tetapi ia meragukan bahwa mujizat pantas dipercayai. Adapun pokok pemikirannya dapat diringkaskan sebagai berikut: (1) Sebuah hukum alam mempunyai tingkat kemungkinan yang paling besar, karena di dasarkan pada hal-hal yang biasa terjadi, yaitu yang diatur. Sedangkan sebuah mujizat mempunyai tingkat kemungkinan yang paling rendah, karena jarang terjadi. (2) Seorang yang bijak, mendasarkan keyakinan/kepercayaannya atas tingkat kemungkinan yang paling tinggi. Karena itu orang yang paling bijaksana seharusnya tidak percaya bahwa mujizat apapun pernah terjadi. Apa tanggapan kita terhadap pendapat Hume? DISKUSIKAN. (a) Hume “sengaja” mengacaukan antara hukum alam dan peristiwa histories. “Mujizat” bukan hukum alam, melainkan peristiwa histories. (b) Hume tidak menggunakan istilah percaya secara proporsional. Maksudnya, peristiwa alam tidak perlu dipercayai. (c) Jika seseorang meragukan adanya Allah, maka tidak mungkin ia memberi sikap yang tepat terhadap mujizat. (d) Hume juga keliru dalammengerti hukum alam sebagai fakta yang mutlak. Sebenarnya hukum alam bukan fakta, melainkan hanya satu konsep manusia yang menolak Allah sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta. Ide mengenai hukum alam muncul karena Hume berpendapat bahwa “Mujizat adalah tindakan kekerasan (pemerkosaan) terhadap hukum alam yang ditetapkan oleh pengalaman yang takkan dapat berubah. vii) Immanuel Kant (1724-1804), ahli filsafat Agnotisisme. Tinggalkan Balasan Cari Search for: RSS RSS Feed RSS - Tulisan Entri Terkini APOLOGETIKA. Pdt. MS Meliala DOGMATIKA I OLEH MURNI SEJARAH GEREJA UMUM I oleh Pdt. Daud Manno MENGAPA ANAK TUHAN MEMPELAJARI FIRMAN OLEH PDT. BENY S PAK by Pestaria Happy Kristiana, S.H, MACE UJIAN PASTORAL KONSELING UNDANGAN PEMBUKAAN STAJ KAMPUS DENPASAR BALI DOAKAN BAPAK BILL HANSON !! Hello world! Tautan Blogroll Panti Asuhan Pdt. Victor Hutapea

Tidak ada komentar:

Posting Komentar